KAMPAR, (MataAndalas) – Sikap Wakil Bupati Kampar, Hj. Misharti, yang mendatangi Kelas Jauh Sekolah Dasar Negeri (SDN) 007 Tapung dan memarahi seorang guru honorer mendapat sorotan dari sejumlah pihak.
Aksi tersebut sebelumnya diberitakan sejumlah media online dan memicu kecaman dari masyarakat. Guru honorer tersebut diketahui menjadi sorotan setelah menyampaikan kondisi sekolah yang berdinding triplek dan tanpa plafon.
Kecaman tidak hanya datang dari masyarakat dan sejumlah tokoh, tetapi juga dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Potret Keadilan Masyarakat (PKM). Sikap Wakil Bupati Kampar itu juga mendapat beragam respons dari warganet di media sosial.
Tokoh masyarakat Riau, Dr. Elviriadi, turut menyayangkan sikap tersebut. Menurutnya, seorang pemimpin semestinya dapat menerima kritik dan menjadikannya sebagai bahan evaluasi.
“Wah, sungguh tak pantas seorang pemimpin seperti itu. Seharusnya dia malu dengan adanya kondisi sekolah yang begitu rupa,” ujar Elviriadi, yang juga dosen UIN Suska Riau, Rabu (30/9/2026).
Pengurus PP Muhammadiyah itu menilai, seorang pemimpin di Kampar semestinya mencerminkan nilai-nilai ketawadhuan, kepedulian terhadap masyarakat, serta terbuka terhadap kritik dan masukan.
“Kampar itu butuh pemimpin yang tawadhu’, peduli rakyat, mau menerima masukan dan kritikan. Begitulah adab Melayu dan adat istiadat kita,” imbuhnya.
Elviriadi juga menyoroti sejumlah persoalan yang menurutnya masih menjadi pekerjaan rumah di Kabupaten Kampar.
“Kampar ini seolah surga bagi mafia tanah. Korupsi, suap-menyuap merajalela. Perumahan berdiri tanpa izin dan mengganggu masyarakat. Inilah tugas sebenarnya yang diabaikan. Tak peduli, tak peduli,” pungkasnya.
Elviriadi dikenal sebagai akademisi yang kerap dimintai keterangan sebagai ahli dalam sejumlah perkara di pengadilan. Ia juga dikenal karena sikapnya dalam menyuarakan isu lingkungan, termasuk perjuangannya terhadap kelestarian hutan di kawasan Tarai Bangun.***





