Rumah tangga tidak selalu dibangun oleh dua orang yang memiliki tingkat kematangan agama yang sama. Ada pasangan yang sejak awal memiliki visi keagamaan yang sejalan, tetapi ada pula yang baru menemukan kedalaman spiritual setelah menjalani kehidupan bersama. Dalam banyak keluarga, suami mungkin lebih dahulu aktif dalam kehidupan keagamaan, sementara istrinya masih menjalani proses pencarian dan pembentukan diri. Sang suami mulai menjaga salat, memperdalam ilmu agama, memperhatikan halal dan haram dalam kehidupan, serta berusaha membawa keluarganya ke arah yang lebih baik.
Sementara itu, sang istri mungkin belum memiliki kebiasaan yang sama. Perbedaan semacam ini seharusnya tidak otomatis dibaca sebagai masalah, sebab manusia memang tumbuh melalui proses yang berbeda. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana suami menggunakan kesalehannya: apakah sebagai sumber keteladanan atau justru sebagai alat untuk mengontrol pasangan? Di sinilah kualitas kepemimpinan dalam keluarga diuji.
Dalam pandangan Islam, suami memang memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin keluarga, tetapi kepemimpinan tersebut bukan tiket untuk mendominasi. Ia adalah amanah yang menuntut keteladanan, perlindungan, kebijaksanaan, dan tanggung jawab. Seorang suami yang memahami makna kepemimpinan tidak akan sibuk menuntut istrinya menjadi seperti dirinya. Ia justru akan bertanya lebih dahulu kepada dirinya: apakah kehadirannya membuat istrinya merasa lebih dekat kepada Allah, atau justru merasa semakin jauh karena agama hadir dalam bentuk tekanan?Pertanyaan ini penting karena nasihat yang benar belum tentu menghasilkan perubahan apabila disampaikan dengan cara yang keliru.
Dalam kehidupan keluarga, orang tidak hanya mendengar kata-kata, tetapi juga membaca perilaku. Istri akan melihat bagaimana suami memperlakukan orang tua, bagaimana ia berbicara kepada anak, bagaimana ia menghadapi persoalan, bagaimana ia mengendalikan amarah, bagaimana ia menggunakan uang, dan bagaimana ia memperlakukan istrinya ketika terjadi perbedaan pendapat. Semua itu adalah bentuk pendidikan yang berlangsung setiap hari. Karena itu, seorang suami yang ingin istrinya semakin baik tidak cukup hanya mengatakan apa yang harus dilakukan. Ia perlu memperlihatkan terlebih dahulu bagaimana kebaikan itu dijalankan. Jika menginginkan keluarga menjaga salat, ia harus menjadi orang yang konsisten dengan salatnya. Jika berharap istrinya berbicara lembut, ia perlu menunjukkan kelembutan. Jika menginginkan rumah tangga yang penuh kejujuran, ia harus menjadi orang pertama yang menjaga amanah.
Dengan demikian, dakwah dalam keluarga tidak berhenti pada ucapan, tetapi hadir dalam perilaku sehari-hari. Di sinilah keteladanan memiliki kekuatan yang sering kali tidak dimiliki oleh perintah. Seorang istri mungkin dapat melupakan banyak nasihat yang pernah didengarnya, tetapi ia akan mengingat bagaimana suaminya memperlakukannya ketika ia berada dalam keadaan sulit. Ia mungkin tidak mengingat berapa banyak ceramah agama yang disampaikan kepadanya, tetapi ia akan mengingat apakah suaminya tetap menghormatinya ketika terjadi perbedaan.
Karena itu, kesalehan suami seharusnya menghadirkan rasa aman. Rumah harus menjadi tempat di mana istri dapat belajar, bertanya, bahkan mengakui kekurangan tanpa takut direndahkan.
Dalam konteks ini, suami perlu mengubah cara mendampingi pasangan. Jangan menjadikan agama sebagai daftar kewajiban yang terus-menerus ditagihkan. Bangunlah suasana yang membuat kehidupan beragama terasa sebagai kebutuhan, bukan beban.
Perubahan dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Misalnya, suami mengajak salat berjamaah tanpa memaksa, menyediakan waktu membaca Al-Qur’an bersama, mengajak keluarga menghadiri kegiatan keagamaan, atau membiasakan doa bersama sebelum memulai aktivitas.
Kegiatan sederhana tersebut mungkin terlihat kecil, tetapi jika dilakukan secara konsisten dapat membentuk budaya spiritual dalam keluarga. Yang tidak kalah penting adalah cara suami berbicara. Nasihat sebaiknya diberikan pada waktu yang tepat dan dalam suasana yang memungkinkan pasangan mendengar dengan tenang. Hindari memberikan koreksi ketika emosi sedang tinggi.
Jangan menggunakan kelemahan agama istri sebagai bahan sindiran, terlebih di depan anak atau keluarga besar. Jangan pula membandingkan istri dengan perempuan lain yang dianggap lebih salehah. Perbandingan hampir selalu melahirkan luka, bukan perubahan.
Sebaliknya, gunakan bahasa yang menunjukkan bahwa proses perbaikan merupakan perjalanan bersama. “Mari kita belajar bersama” memiliki daya yang berbeda dengan “Kamu harus berubah.” Kalimat pertama mengandung kebersamaan, sementara kalimat kedua berpotensi menempatkan istri sebagai pihak yang selalu salah.
Di sinilah komunikasi menjadi bagian penting dari dakwah keluarga. Suami juga perlu memahami bahwa perubahan tidak selalu berlangsung cepat. Seseorang yang bertahun-tahun hidup dengan kebiasaan tertentu tidak serta-merta berubah hanya karena beberapa kali dinasihati. Karena itu, setiap kemajuan perlu dihargai.
Jika istri mulai menjaga salat, mulai membaca Al-Qur’an, mulai mengikuti kajian, atau mulai menunjukkan perhatian lebih besar terhadap pendidikan agama anak, jangan langsung menuntut perubahan berikutnya. Berikan apresiasi.
Perubahan yang dihargai akan lebih mudah dipelihara daripada perubahan yang selalu dianggap belum cukup. Namun, menjadi suami yang saleh juga bukan berarti mengambil alih seluruh proses spiritual istrinya. Hidayah tidak dapat dipaksakan. Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Karena itu, suami hanya bertugas melakukan ikhtiar terbaik, sedangkan hasil akhirnya bukan berada di tangannya.
Kesadaran ini penting agar seorang suami tidak berubah menjadi pengawas ibadah istrinya sepanjang waktu. Rumah tangga bukan lembaga pemeriksaan agama. Suami bukan auditor kesalehan istrinya. Ia adalah pasangan hidup yang semestinya menjadi teman dalam perjalanan menuju kebaikan.
Pada saat yang sama, istri juga perlu memiliki ruang untuk bertumbuh. Jika suami lebih dahulu aktif dalam kegiatan keagamaan, jangan menjadikan perbedaan itu sebagai alasan untuk merasa lebih unggul. Justru jadikan kesempatan tersebut sebagai ruang untuk berbagi. Suami dapat mengajak, bukan memaksa; memberikan contoh, bukan mempermalukan; membuka percakapan, bukan memutuskan sepihak.
Dengan cara seperti ini, kepemimpinan menjadi proses pendampingan, bukan dominasi. Persoalan rumah tangga juga tidak semuanya dapat diselesaikan dengan nasihat agama. Ada konflik yang berakar pada komunikasi, tekanan ekonomi, pola pengasuhan, luka masa lalu, persoalan psikologis, atau masalah relasi yang membutuhkan pendampingan khusus.
Dalam kondisi seperti ini, suami harus cukup dewasa untuk mengakui bahwa dirinya tidak selalu memiliki semua jawaban. Konsultasi dengan konselor keluarga, mediator, atau tokoh agama yang memahami persoalan perkawinan dapat menjadi pilihan yang bijaksana.
Meminta bantuan tidak mengurangi kewibawaan seorang suami. Justru itu menunjukkan bahwa ia serius menjaga keluarganya. Hal lain yang sangat penting adalah kemampuan suami mengelola konflik. Banyak keluarga tidak hancur karena perbedaan, tetapi karena cara menghadapi perbedaan.
Suami yang mampu menahan diri ketika marah sedang memberikan pelajaran agama kepada seluruh anggota keluarganya. Sebaliknya, kekerasan, penghinaan, ancaman, atau perilaku yang menimbulkan ketakutan tidak dapat dibenarkan dengan alasan kepemimpinan.
Kesalehan harus membuat seseorang semakin mampu mengendalikan dirinya, bukan semakin mudah menggunakan kekuasaan terhadap orang lain. Jika terjadi kekerasan atau perilaku yang membahayakan istri dan anak, persoalannya tidak boleh disederhanakan sebagai persoalan kurang sabar atau kurang taat.
Diperlukan batas yang jelas dan bantuan yang tepat untuk memastikan keselamatan keluarga. Karena itu, menjadi suami saleh bukan berarti menjadi manusia yang tidak pernah salah. Kesalehan justru terlihat dari kemampuan seseorang menyadari kesalahan, meminta maaf, memperbaiki diri, dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Suami yang mampu mengatakan “Saya keliru” tidak kehilangan wibawa. Sebaliknya, ia sedang mengajarkan kepada keluarganya bahwa kerendahan hati merupakan bagian dari kekuatan.
Begitu pula ketika istri menyampaikan kritik, suami tidak perlu selalu merasa bahwa kepemimpinannya sedang digugat. Pemimpin keluarga yang matang tidak takut dikoreksi. Ia justru menjadikan kritik sebagai bahan evaluasi.
Dari sinilah keluarga dapat membangun budaya saling memperbaiki tanpa saling merendahkan. Pada akhirnya, tujuan kehidupan berkeluarga bukan menjadikan salah satu pasangan sebagai pengawas moral bagi pasangan lainnya.
Tujuannya adalah menciptakan lingkungan yang memungkinkan keduanya berkembang menjadi manusia yang lebih baik. Kesalehan suami akan memiliki makna apabila ia mampu menghadirkan ketenangan, bukan ketakutan; memberikan arah, bukan tekanan; membuka ruang dialog, bukan menutupnya; serta mengajak dengan kasih sayang, bukan dengan penghukuman.
Maka, bagi suami yang ingin membantu istrinya bertumbuh dalam kehidupan beragama, langkahnya sebenarnya sangat konkret. Mulailah dengan memperbaiki kualitas hubungan kepada Allah, kemudian bawa nilai-nilai itu ke dalam hubungan dengan istri.
Jadwalkan ibadah bersama secara sederhana dan realistis. Sisihkan waktu khusus untuk berbicara tanpa telepon dan tanpa gangguan pekerjaan. Berikan apresiasi atas perubahan kecil yang dilakukan pasangan. Hindari membandingkan istri dengan orang lain. Libatkan istri dalam keputusan keluarga. Belajar mengelola kemarahan dan menyelesaikan konflik tanpa kekerasan.
Jika komunikasi tidak menemukan jalan keluar, jangan ragu mencari pendampingan. Dan yang paling penting, lakukan semua itu secara konsisten. Sebab keluarga tidak berubah hanya karena satu nasihat yang baik, tetapi karena kebaikan yang terus-menerus hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Seorang suami mungkin tidak mampu membuat istrinya berubah dalam waktu singkat. Namun ia dapat menciptakan rumah yang membuat perubahan terasa mungkin. Ia dapat menjadi alasan bagi istrinya untuk percaya bahwa kehidupan beragama bukan sesuatu yang menakutkan, melainkan sesuatu yang menenteramkan. Ia dapat menunjukkan bahwa menjadi lebih dekat kepada Allah tidak berarti kehilangan kebahagiaan sebagai manusia, tetapi justru menemukan makna yang lebih dalam dalam kehidupan bersama. Pada akhirnya, seorang suami tidak perlu menjadi manusia sempurna untuk menjadi teladan. Ia hanya perlu bersedia terus memperbaiki diri dan mengajak istrinya berjalan bersamanya. Sebab dalam rumah tangga, jalan menuju kebaikan tidak selalu dimulai dengan nasihat.
Kadang ia dimulai dari seorang suami yang memilih untuk lebih lembut, lebih sabar, lebih hadir, dan lebih bertanggung jawab. Dari sanalah istri mungkin menemukan kembali arah. Bukan karena ia dipaksa untuk berubah, tetapi karena ia melihat bahwa perubahan itu indah ketika ditempuh bersama. Kesalehan suami pada akhirnya bukan tentang seberapa jauh ia berada di depan istrinya, melainkan seberapa tulus ia menggandeng istrinya agar keduanya dapat berjalan menuju Allah dalam satu arah.wallahu a’lam
OPINI Oleh: Iswadi M. Yazid







