Mata Rakyat Jantung Peristiwa
Indeks
banner 728x250
Blog  

Melayu Jangan Hanya di Baju

banner 120x600
banner 468x60
OPINI Oleh: Dr. H. Iswadi M. Yazid, Lc., M.Sy.

Ada kebanggaan tersendiri ketika melihat pakaian Melayu semakin sering hadir di ruang-ruang publik di Riau. Pada hari tertentu, kantor pemerintahan, sekolah, lembaga pendidikan, hingga tempat pelayanan masyarakat tampak berbeda dengan hadirnya baju Melayu, kain samping, tanjak, baju kurung, dan beragam corak songket.

Apalagi ketika Riau memasuki momentum penting daerah, pakaian Melayu semakin banyak dikenakan dan menjadi bagian dari suasana perayaan. Tentu ini merupakan perkembangan yang patut diapresiasi. Di tengah perubahan mode yang bergerak begitu cepat, pakaian Melayu masih memiliki ruang dan tidak kehilangan tempat di tengah masyarakat.

banner 325x300

Namun, kebanggaan tersebut sebaiknya tidak berhenti pada apa yang tampak oleh mata. Ada pertanyaan yang jauh lebih penting untuk kita renungkan: apakah semakin sering kita mengenakan pakaian Melayu juga membuat kita semakin memahami nilai yang berada di baliknya?

Jangan sampai kita mengenal bentuk bajunya tetapi asing terhadap pesannya, menyukai keindahan songketnya tetapi tidak mengetahui makna motifnya, atau merasa bangga memakai tanjak tetapi tidak memahami marwah yang menyertainya.

Pakaian dalam kebudayaan Melayu sesungguhnya tidak hanya berkaitan dengan penampilan. Cara pakaian itu dibentuk memperlihatkan pandangan tertentu tentang bagaimana manusia seharusnya membawa diri.

Baju Melayu pada umumnya dibuat longgar, tertutup, rapi, dan tidak berlebihan. Baju Cekak Musang dan Teluk Belanga yang dikenakan kaum laki-laki ataupun baju kurung yang dikenakan perempuan sama-sama menghadirkan kesan santun tanpa kehilangan keindahannya.

Dari sana kita dapat menangkap pesan sederhana bahwa menjadi elok tidak harus dengan mengabaikan kepatutan. Keindahan justru memperoleh nilainya ketika berjalan bersama kesantunan.

Begitu pula dengan kain samping, tanjak, dan songket yang melengkapi pakaian Melayu. Kehadirannya bukan semata-mata untuk memperindah penampilan. Ada perjalanan budaya, kebiasaan, simbol, dan pesan kehidupan yang menyertainya.

Tanjak, misalnya, telah menjadi salah satu penanda yang kuat dalam kebudayaan Melayu. Ia diletakkan di kepala, bagian tubuh yang secara simbolis memiliki kedudukan terhormat, sehingga penggunaannya selayaknya diiringi pula oleh kesadaran untuk menjaga kehormatan diri.

Songket juga tidak hanya menawarkan kemegahan benang, warna, dan susunan corak. Di dalam ragam hiasnya tersimpan jejak cara masyarakat Melayu memahami alam dan kehidupan.

Banyak motif Melayu lahir dari apa yang tumbuh, bergerak, dan terlihat di lingkungan sekitar. Pucuk rebung, misalnya, terinspirasi dari tunas bambu yang kecil, kemudian tumbuh tinggi dan akhirnya memberi banyak manfaat.

Dari proses itu dapat dipetik pelajaran bahwa manusia pun seharusnya terus bertumbuh dan semakin berguna seiring perjalanan usia.

Kaluk pakis serta beragam motif bunga dan tumbuhan lainnya menunjukkan betapa dekatnya kehidupan masyarakat Melayu dengan alam. Sementara itu, motif itik pulang petang dapat mengingatkan tentang keteraturan dan kebersamaan.

Sekelompok itik yang kembali secara beriringan menghadirkan gambaran sederhana bahwa kehidupan tidak selalu harus dijalani dengan berlomba menjadi yang paling depan; ada waktunya manusia perlu berjalan bersama, saling menjaga, dan menghormati keteraturan.

Dengan demikian, ornamen Melayu bukan hanya penghias kain. Motif dapat menjadi media untuk menitipkan petuah.

Orang-orang terdahulu tidak selalu menyampaikan nilai kehidupan melalui uraian panjang. Mereka menyelipkannya ke dalam pantun, peribahasa, ukiran, tenunan, bentuk pakaian, dan berbagai karya budaya.

Alam diamati, kehidupan direnungkan, lalu pelajarannya diwariskan melalui simbol yang dapat terus dilihat oleh generasi sesudahnya.

Persoalannya, apakah bahasa simbol itu masih kita pahami hari ini?

Kita tentu mendukung penggunaan pakaian Melayu di kantor, sekolah, lembaga pemerintahan, dan berbagai kegiatan masyarakat. Kebiasaan tersebut penting karena membuat kebudayaan tetap terlihat dalam kehidupan sehari-hari.

Anak-anak yang sejak sekolah telah mengenakan pakaian Melayu setidaknya mengenal bahwa tempat mereka tumbuh mempunyai warisan budaya yang bernilai.

Akan tetapi, memakai pakaian hanyalah permulaan dari proses pelestarian. Warisan budaya akan kehilangan kedalaman apabila generasi berikutnya hanya mengetahui kapan baju Melayu harus dipakai, tetapi tidak pernah mengetahui mengapa bentuknya dibuat santun, apa pesan yang terkandung dalam motifnya, atau nilai apa yang seharusnya tumbuh bersama kebiasaan mengenakannya.

Bahkan ada pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan kita: untuk apa memakai pakaian yang mencerminkan kesopanan apabila perkataan masih mudah melukai? Apa arti tanjak yang sering dikaitkan dengan marwah apabila pemakainya gemar meremehkan orang lain? Dan apa gunanya motif yang membawa pesan kebersamaan jika perbedaan kecil saja membuat kita mudah berselisih?

Dari kegelisahan itulah ungkapan “Melayu jangan hanya di baju” menemukan relevansinya.

Kalimat tersebut sama sekali bukan ajakan untuk menentukan siapa yang lebih Melayu atau siapa yang bukan Melayu. Melayu yang dimaksud di sini tidak dibatasi oleh darah, silsilah, ataupun asal-usul kesukuan.

Riau hari ini merupakan ruang kehidupan bersama bagi masyarakat dengan beragam latar belakang. Ada banyak suku, agama, bahasa, dan tradisi yang bertemu di Bumi Lancang Kuning.

Mereka bekerja, bersekolah, bertetangga, berusaha, dan membangun masa depan di daerah yang sama.

Dalam kenyataan seperti ini, kebudayaan Melayu seharusnya tidak tumbuh menjadi pagar yang memisahkan, melainkan menjadi salah satu ruang yang mempertemukan.

Seseorang tidak harus memiliki garis keturunan Melayu untuk menghargai atau mengenakan pakaian Melayu. Begitu pula kesantunan, kejujuran, amanah, musyawarah, menghormati orang tua, memuliakan tamu, menolong sesama, dan menjaga keharmonisan bukanlah nilai yang hanya boleh dimiliki oleh kelompok tertentu.

Kebaikan tidak mengenal batas suku.

Ketika masyarakat dari berbagai latar belakang ikut mengenakan pakaian Melayu dengan rasa hormat, hal tersebut justru memperlihatkan bahwa kebudayaan daerah dapat menjadi ruang kebersamaan tanpa harus menghapus identitas asal seseorang.

Orang tetap dapat mencintai tradisi leluhurnya sekaligus menghormati kebudayaan tempat ia tinggal.

Kebudayaan menjadi kuat bukan karena mampu membuat orang lain berada di luar lingkarannya, tetapi karena memiliki nilai yang membuat banyak orang merasa nyaman untuk ikut menjaganya.

Dalam perjalanan sejarahnya, kebudayaan Melayu Riau juga memiliki hubungan yang kuat dengan nilai Islam. Falsafah adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah memperlihatkan bagaimana adat dan agama saling memberi arah dalam kehidupan masyarakat.

Karena itu, tunjuk ajar Melayu banyak berbicara tentang adab, amanah, tahu diri, menjaga kehormatan, menghargai orang lain, dan bertanggung jawab terhadap kehidupan bersama.

Tenas Effendy melalui karya-karyanya mengenai Tunjuk Ajar Melayu telah mendokumentasikan begitu banyak nilai yang menunjukkan bahwa kemelayuan tidak hanya dibaca dari pakaian atau bahasa, tetapi juga dari cara seseorang menempatkan dirinya dalam hubungan dengan keluarga, masyarakat, lingkungan, dan sesama manusia.

Nilai semacam ini justru semakin penting ketika kehidupan memasuki zaman digital.

Hari ini manusia dapat berbicara kepada banyak orang hanya melalui layar telepon. Media sosial membuat siapa saja mudah menyampaikan pendapat, tetapi kemudahan berbicara belum tentu diikuti kemampuan menjaga ucapan.

Kita dapat menemukan orang yang tampak santun ketika bertemu secara langsung, tetapi berubah begitu berada di ruang digital.

Komentar kasar, tuduhan, ejekan, berita yang belum terverifikasi, hingga kebiasaan mempermalukan orang lain mudah ditemukan.

Karena itu, kesantunan Melayu tidak cukup dipraktikkan ketika menghadiri acara adat atau bertemu orang yang lebih tua. Kesantunan juga perlu hadir ketika menulis komentar, membagikan informasi, dan berbeda pandangan di media sosial.

Menjaga marwah tidak hanya dilakukan saat tanjak terpasang di kepala, tetapi juga ketika kita mempunyai kesempatan untuk membalas penghinaan namun memilih kata-kata yang lebih bermartabat.

Tahu batas bukan hanya tuntunan dalam pergaulan di dunia nyata, tetapi juga diperlukan ketika jari bergerak di atas layar.

Nilai lama ternyata masih sangat dibutuhkan untuk menghadapi persoalan zaman baru.

Tantangan selanjutnya adalah bagaimana semua nilai tersebut diperkenalkan kepada generasi muda.

Kita tidak seharusnya terburu-buru menyalahkan mereka sebagai generasi yang jauh dari budaya. Mereka lahir dalam dunia yang jauh lebih terbuka.

Berbagai gaya berpakaian, musik, bahasa, hiburan, dan tren dari seluruh penjuru dunia hadir setiap hari melalui perangkat yang berada di tangan mereka.

Karena itu, kebudayaan tidak cukup diwariskan melalui aturan dan kewajiban. Generasi muda perlu mengetahui cerita dan alasan di baliknya.

Ketika mereka diminta mengenakan baju Melayu, berikan pemahaman tentang kesantunan yang menjadi ruhnya.

Ketika mereka memakai songket, ceritakan bahwa motif di atas kain bukan dibuat tanpa makna.

Ketika tanjak dipasang di kepala mereka, kenalkan pula gagasan tentang kehormatan, tanggung jawab, dan marwah.

Dengan cara demikian, pakaian tidak sekadar melekat pada tubuh, tetapi juga meninggalkan pengetahuan dalam pikiran.

Pada saat yang sama, kreativitas generasi muda tidak perlu dibatasi secara berlebihan. Pakaian Melayu dapat terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman.

Desain bisa menjadi lebih segar, warna dapat semakin beragam, dan cara mengenakannya dapat menyesuaikan ruang kehidupan modern.

Kebudayaan yang mampu beradaptasi justru memiliki peluang lebih besar untuk bertahan.

Namun, perubahan bentuk jangan sampai menghilangkan watak dasarnya. Modernisasi seharusnya memperluas ruang hidup kebudayaan, bukan mengosongkan maknanya.

Kreativitas tetap perlu berjalan bersama kepatutan dan kesantunan.

Demikian pula mencintai Melayu tidak membutuhkan perasaan lebih tinggi daripada kebudayaan lain.

Negeri ini menjadi kaya karena setiap daerah memiliki bahasa, adat, pakaian, seni, dan tradisinya masing-masing.

Melayu mempunyai keindahan sendiri, sebagaimana Minangkabau, Jawa, Batak, Bugis, Sunda, Dayak, dan berbagai kebudayaan Nusantara memiliki kekayaan yang patut dihormati.

Kebanggaan terhadap budaya sendiri seharusnya membuat kita semakin mudah menghargai budaya orang lain, bukan sebaliknya.

Dalam masyarakat Riau yang majemuk, cara pandang seperti inilah yang penting dirawat. Identitas lokal dapat tetap kuat tanpa harus mempersempit ruang keberagaman.

Karena itu, keberhasilan menjaga budaya Melayu seharusnya tidak hanya dihitung dari banyaknya orang yang memakai baju Melayu pada hari tertentu, banyaknya tanjak yang terlihat dalam sebuah acara, atau semakin ramainya motif Melayu menghiasi ruang publik.

Ada ukuran lain yang jauh lebih penting: apakah kesantunan masih terasa dalam pergaulan kita, apakah persoalan diselesaikan melalui musyawarah, apakah orang yang lebih tua tetap dimuliakan, apakah generasi muda dibimbing dengan teladan, apakah tamu diperlakukan dengan baik, apakah amanah dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, dan apakah perbedaan dapat dihadapi tanpa saling merendahkan.

Jika semua itu masih tumbuh dalam kehidupan masyarakat, Melayu sesungguhnya sedang hidup, bahkan ketika seseorang tidak sedang mengenakan baju Melayu.

Karena itu, mari terus memakai dan membanggakan pakaian Melayu, mengenalkannya kepada anak-anak, serta memberi ruang bagi generasi baru untuk mengembangkannya.

Biarkan baju kurung tetap membawa pesan kesantunan, songket terus bercerita melalui motifnya, dan tanjak berdiri sebagai lambang kehormatan.

Namun, jangan biarkan semua itu hanya menjadi keindahan yang berhenti di permukaan.

Melayu jangan hanya di baju.

Biarkan kesantunannya berpindah ke dalam ucapan, marwahnya terlihat dalam integritas, kebersamaannya hadir ketika menghadapi perbedaan, dan tunjuk ajarnya tercermin dalam cara kita memperlakukan orang lain.

Sebab pakaian memang dapat memperlihatkan identitas sebuah kebudayaan, tetapi pada akhirnya sikap dan perilakulah yang membuktikan apakah nilai kebudayaan itu benar-benar hidup dalam diri kita.

wallahu a’lam

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright 2026 @ Mataandalas.id. All right reserved.