Mata Rakyat Jantung Peristiwa
Indeks
banner 728x250
Opini  

Dari Scroll ke Shaf: Mengajak Generasi Z Kembali ke Masjid

banner 120x600
banner 468x60
OPINI Oleh: Iswadi M.Yazid

Azan Shubuh telah berkumandang. Di luar sana, masjid mulai membuka pintunya, imam bersiap memimpin shalat, dan sebagian jamaah berjalan menembus udara pagi. Namun, di dalam banyak kamar, pemandangan yang berbeda mungkin sedang berlangsung: layar ponsel masih menyala, jempol masih bergerak dari satu video ke video berikutnya, dan rasa kantuk menjadi alasan untuk menunda bangun.

Masjid memanggil, tetapi sebagian Generasi Z masih memilih tinggal di balik layar. Di sinilah kita perlu bertanya: apa yang membuat suara azan kalah kuat dibandingkan notifikasi ponsel? Mengapa ajakan menuju masjid belum mampu mengalahkan kenyamanan tempat tidur dan daya tarik dunia digital? Pertanyaan ini tidak semestinya digunakan untuk menyalahkan Generasi Z sebagai generasi yang malas beribadah.

banner 325x300

Sebaliknya, ia harus menjadi bahan refleksi bagi keluarga, masyarakat, pengurus masjid, dan para pendakwah. Jika anak muda semakin jauh dari masjid, mungkin persoalannya bukan hanya pada mereka yang tidak datang, tetapi juga pada kita yang belum menemukan cara yang tepat untuk mengajak mereka datang.Generasi Z secara umum merujuk pada mereka yang lahir sekitar 1997–2012. Mereka tumbuh dalam lingkungan sosial yang mengalami transformasi digital secara cepat. Internet, smartphone, media sosial, dan berbagai platform digital telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Bagi Generasi Z, teknologi bukan sekadar alat, tetapi bagian dari lingkungan sosial. Belajar, berkomunikasi, mencari hiburan, memperoleh informasi, membangun relasi, bahkan mengekspresikan diri dapat dilakukan melalui perangkat digital. Karena itu, tidak tepat jika mereka hanya dilihat sebagai “generasi gadget”. Mereka memiliki kreativitas dan kemampuan adaptasi yang tinggi, tetapi juga menghadapi tantangan berupa banjir informasi, distraksi digital, budaya instan, tekanan sosial, serta perubahan pola interaksi. Persoalannya bukan pada teknologi semata, melainkan pada kemampuan mengendalikan penggunaannya.

Rendahnya keterlibatan sebagian anak muda di masjid juga tidak dapat dijelaskan hanya dengan kata “malas”. Pola tidur, aktivitas digital hingga larut malam, lingkungan pertemanan, kebiasaan keluarga, akses ke masjid, pengalaman keagamaan, dan bentuk kegiatan masjid dapat saling berinteraksi. Karena itu, pertanyaan “Mengapa Generasi Z tidak mau ke masjid?” perlu dilengkapi dengan pertanyaan yang lebih reflektif: “Apa yang membuat masjid belum menjadi bagian penting dari kehidupan mereka?” Pertanyaan kedua mengajak kita mengevaluasi bukan hanya perilaku anak muda, tetapi juga pendekatan keluarga, lingkungan, dakwah, dan pengelolaan masjid.

Dalam konteks tersebut, Gerakan Shubuh Berjamaah dapat menjadi salah satu pendekatan pembentukan karakter. Shalat Shubuh dilaksanakan pada waktu ketika sebagian besar manusia masih beristirahat. Untuk berjamaah di masjid, seseorang harus mengatur waktu tidur, bangun tepat waktu, meninggalkan kenyamanan tempat tidur, mengambil wudu, dan berjalan menuju masjid. Dari perspektif pendidikan karakter, kebiasaan tersebut melatih disiplin waktu, tanggung jawab, konsistensi, dan pengendalian diri. Al-Qur’an menyebutkan, “Dirikanlah shalat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (dirikan pula shalat) Subuh.

Sesungguhnya shalat Subuh itu disaksikan.” (QS. Al-Isra’: 78). Rasulullah SAW juga menjelaskan keutamaan shalat Isya dan Shubuh berjamaah dalam hadis riwayat Muslim. Dengan demikian, Shubuh bukan hanya kewajiban ritual, tetapi juga dapat menjadi sarana pembentukan kebiasaan positif. Istilah “dari scroll ke shaf” menjadi metafora untuk memahami tantangan generasi muda. Scroll menggambarkan kehidupan digital yang cepat, personal, dan terus bergerak. Satu informasi berganti dengan informasi lain hanya melalui gerakan jari.

Sementara shaf menggambarkan keteraturan, kebersamaan, kesetaraan, kedisiplinan, dan orientasi spiritual. Di dalam shaf, seseorang tidak dinilai berdasarkan jumlah pengikut, popularitas, kekayaan, atau status sosial. Semua berdiri menghadap kiblat dan mengikuti imam. Ada pesan pendidikan sosial yang kuat: manusia tidak hanya hidup untuk dirinya sendiri, tetapi membutuhkan kebersamaan dan tanggung jawab terhadap orang lain.Karena itu, mengajak Generasi Z kembali ke masjid bukan berarti membawa mereka keluar dari dunia modern. Kita justru ingin membantu mereka membangun keseimbangan antara kehidupan digital dan spiritual.

Mereka boleh menggunakan teknologi, aktif di media sosial, dan mengembangkan kreativitas digital. Namun, mereka juga membutuhkan ruang untuk berhenti, beribadah, berdialog, dan membangun hubungan sosial secara langsung.Pada titik ini, masjid perlu melakukan evaluasi.

Masjid tidak cukup hanya menjadi tempat ibadah ritual, tetapi juga perlu dikembangkan sebagai ruang pendidikan, pembinaan, silaturahmi, dan pemberdayaan. Bagi generasi muda, masjid dapat menjadi ruang belajar agama, berdiskusi, membangun komunitas, mengembangkan kreativitas, melakukan kegiatan sosial, dan belajar kepemimpinan. Gerakan Shubuh dapat menjadi pintu masuk. Setelah shalat, misalnya, dapat dilanjutkan dengan kajian singkat, diskusi anak muda, literasi digital, kegiatan sosial, olahraga, atau sarapan bersama. Kegiatan tersebut harus memiliki tujuan pembinaan yang jelas, bukan sekadar memperbanyak agenda.Hal yang tidak kalah penting adalah menciptakan sense of belonging, atau rasa memiliki terhadap masjid.

Anak muda tidak cukup hanya diundang untuk hadir, tetapi perlu dilibatkan. Mereka dapat diberi ruang mengelola media sosial masjid, membuat konten edukasi, menjadi panitia, mengembangkan kegiatan kepemudaan, dan terlibat dalam program sosial.

Dengan pendekatan partisipatif, anak muda tidak hanya menjadi penerima program, tetapi bagian dari penggerak masjid.Keluarga juga memiliki peran fundamental. Kebiasaan keagamaan tidak terbentuk secara instan, tetapi melalui sosialisasi dan keteladanan. Orang tua yang membiasakan Shubuh berjamaah dan memberikan contoh penggunaan teknologi secara bijak akan membantu membentuk perilaku anak. Karena itu, ajakan “ayo ke masjid” akan lebih kuat jika disertai contoh nyata.

Kelompok sebaya juga penting. Anak muda sering lebih mudah mengikuti ajakan teman yang dekat dengannya. Membangun komunitas Shubuh yang positif dapat menjadi strategi untuk menjaga konsistensi.Gerakan Shubuh juga perlu menghindari jebakan seremoni. Masjid yang ramai pada satu kegiatan belum tentu menghasilkan kebiasaan yang bertahan. Foto shaf yang penuh belum tentu menunjukkan perubahan karakter. Karena itu, gerakan harus bergerak dari event menjadi habit, dari kegiatan menjadi kebiasaan, dari kebiasaan menjadi karakter, dan dari karakter menjadi budaya. Ukuran keberhasilan bukan hanya jumlah peserta, tetapi perubahan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.Teknologi pun tidak perlu dimusuhi. Media sosial dapat digunakan untuk mengingatkan waktu Shubuh, membangun komunitas, menyebarkan informasi kegiatan, dan menghasilkan konten keagamaan yang kreatif.

Prinsipnya bukan “meninggalkan teknologi”, tetapi mengendalikan teknologi agar tetap menjadi alat. Generasi Z boleh scroll, tetapi jangan sampai lupa shaf.Pada akhirnya, persoalan Generasi Z dan masjid bukan hanya persoalan kehadiran fisik, tetapi bagaimana membangun hubungan mereka dengan agama, komunitas, dan kehidupan sosial. Karena itu, ketika azan Shubuh terdengar, ajaklah mereka dengan cara sederhana: letakkan sejenak telepon genggam, bangun dari tempat tidur, ambil wudu, dan datanglah ke masjid.

Tidak perlu menunggu sempurna untuk datang ke masjid. Justru masjid adalah tempat untuk belajar menjadi lebih baik.Generasi Z tidak membutuhkan celaan, tetapi keteladanan. Mereka tidak hanya membutuhkan nasihat, tetapi ruang. Mereka tidak hanya membutuhkan ajakan, tetapi teman perjalanan. Karena itu, pertanyaan kita bukan hanya, “Mengapa Generasi Z tidak mau ke masjid?” Pertanyaan yang lebih produktif adalah: “Apa yang dapat kita lakukan agar mereka ingin datang, merasa diterima, dan akhirnya mencintai masjid?”Dari scroll menuju shaf bukan sekadar perpindahan dari layar menuju masjid. Ia adalah proses membangun keseimbangan antara kehidupan digital dan spiritual, antara kecanggihan teknologi dan kedalaman nilai.

Jika kita ingin melihat shaf masjid dipenuhi generasi muda, pekerjaan itu harus dimulai sekarang: dengan keteladanan keluarga, dakwah yang relevan, masjid yang ramah, komunitas yang positif, dan satu ajakan sederhana yang terus diulang: “Ayo ke masjid. Shubuh menunggu.” Wallahu a’lam

 

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright 2026 @ Mataandalas.id. All right reserved.