OPINI Oleh : Iswadi M.Yazid
Setiap kali bulan Agustus datang, suasana kampung seperti menemukan kembali denyut kehidupan yang barangkali sempat hilang di tengah kesibukan. Lapangan yang biasanya lengang berubah menjadi tempat berkumpul. Tali ditarik dari satu sisi ke sisi lain, karung-karung disiapkan, kerupuk digantung, bambu untuk panjat pinang didirikan, sementara anak-anak berlarian dengan wajah penuh kegembiraan. Dari pinggir lapangan terdengar suara orang tua memberi semangat, sesekali diselingi tawa ketika seorang peserta terjatuh atau gagal mencapai garis akhir. Tidak ada kemewahan yang diperlukan untuk menciptakan suasana itu. Sebuah lapangan, beberapa perlengkapan sederhana, hadiah yang tidak selalu bernilai besar, dan kehadiran warga sudah cukup membuat sebuah sore terasa istimewa. Kita melakukan semua itu hampir setiap tahun, bahkan setelah bangsa ini memasuki usia kemerdekaan yang ke-81. Lalu muncul pertanyaan yang tampaknya sederhana, tetapi sebenarnya menyimpan makna yang dalam: mengapa kita masih bermain di hari kemerdekaan? Di tengah perubahan zaman, ketika hiburan semakin mudah diperoleh melalui layar dan teknologi menawarkan berbagai bentuk permainan yang jauh lebih canggih, mengapa masyarakat masih mempertahankan lomba-lomba kampung yang terlihat sederhana itu?Mungkin jawabannya bukan semata-mata karena kita membutuhkan hiburan. Bisa jadi, tanpa kita sadari, permainan rakyat adalah salah satu cara masyarakat mempertahankan ruang untuk bertemu. Kehidupan modern membuat manusia semakin sibuk dengan urusannya masing-masing. Kita dapat tinggal dalam satu lingkungan selama bertahun-tahun, tetapi tidak benar-benar mengenal siapa yang hidup beberapa rumah dari tempat kita tinggal. Pekerjaan menyita waktu, aktivitas keluarga semakin padat, dan komunikasi perlahan banyak berpindah ke ruang digital. Dalam keadaan seperti itu, perlombaan Agustus menjadi alasan sederhana untuk keluar dari rumah dan kembali menjadi bagian dari lingkungan. Orang-orang yang biasanya hanya berpapasan dapat duduk bersama. Anak-anak yang mungkin berbeda sekolah dapat bermain dalam satu arena. Para pemuda bekerja sama menyiapkan kegiatan, sementara orang tua menyaksikan dari tepi lapangan. Di sana, permainan berfungsi seperti jembatan yang menghubungkan manusia dengan manusia lainnya. Balap karung bukan hanya persoalan siapa yang paling cepat, tarik tambang bukan semata-mata pertarungan kekuatan, dan panjat pinang bukan sekadar perebutan hadiah di puncak. Di balik semuanya ada perjumpaan, tawa, kerja sama, dukungan, dan rasa memiliki terhadap lingkungan. Kadang-kadang, yang membuat sebuah kampung terasa hidup bukan karena banyaknya bangunan yang berdiri, melainkan karena masih ada orang-orang yang mau berkumpul dan saling menyapa.Di sinilah permainan rakyat menemukan hubungannya dengan kemerdekaan. Kemerdekaan tidak berhenti pada peristiwa sejarah ketika bangsa ini menyatakan dirinya bebas dari penjajahan. Kemerdekaan adalah ruang yang kemudian harus diisi dengan kehidupan yang bermartabat, dengan kesempatan untuk tumbuh, berkarya, berinteraksi, membangun keluarga, dan menciptakan masyarakat yang saling menguatkan. Karena itu, perayaan kemerdekaan sesungguhnya bukan hanya tentang mengingat apa yang telah dilakukan oleh generasi terdahulu, tetapi juga tentang melihat apa yang sedang kita lakukan dengan kebebasan yang diwariskan kepada kita. Setelah bangsa ini merdeka, untuk apa kemerdekaan itu kita gunakan? Pertanyaan tersebut penting karena sebuah kemerdekaan akan kehilangan sebagian maknanya apabila hanya dikenang setiap tahun tanpa tercermin dalam perilaku sehari-hari. Ketika warga dapat berkumpul, ketika anak-anak dapat bermain dengan aman, ketika masyarakat dapat menikmati kegembiraan bersama tanpa melihat perbedaan status sosial, permainan rakyat menghadirkan bentuk kecil dari kehidupan bersama yang sehat. Mungkin sederhana, tetapi justru dari hal-hal sederhana itulah rasa kebangsaan sering tumbuh. Nasionalisme tidak selalu harus hadir dalam kalimat-kalimat besar. Ia kadang muncul ketika seseorang membantu temannya berdiri setelah terjatuh dalam perlombaan, ketika warga bekerja sama menyiapkan kegiatan, atau ketika orang-orang dari berbagai latar belakang duduk dalam satu tempat dan tertawa atas kegembiraan yang sama.Namun, kita juga tidak dapat menutup mata bahwa cara manusia menikmati kehidupan telah berubah. Anak-anak masa kini tumbuh dalam dunia yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya. Jika dahulu seorang anak harus keluar rumah untuk menemukan teman bermain, sekarang ia cukup membuka gawai untuk masuk ke dunia permainan. Jika dahulu permainan membutuhkan halaman, lapangan, atau jalan di depan rumah, sekarang seseorang dapat bermain sendirian di kamar dengan perangkat yang berada di genggaman. Perubahan itu tidak sepenuhnya buruk. Teknologi telah membawa banyak manfaat dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan modern. Anak-anak memperoleh kesempatan belajar yang lebih luas, mengenal dunia dengan lebih cepat, dan berkomunikasi tanpa batas geografis. Yang perlu direnungkan bukanlah bagaimana mengembalikan anak ke masa lalu, melainkan bagaimana memastikan bahwa kemajuan teknologi tidak menghapus kebutuhan dasar manusia untuk hadir secara nyata di tengah manusia lainnya. Kita boleh memiliki dunia digital yang semakin luas, tetapi jangan sampai ruang kehidupan nyata justru semakin sempit. Anak tetap membutuhkan teman yang dapat ia ajak berlari, tertawa, berdebat kecil, berdamai, dan bermain kembali. Ia membutuhkan pengalaman sosial yang tidak seluruhnya dapat diberikan oleh sebuah layar.Permainan rakyat juga memiliki kekuatan sebagai pendidikan karakter yang berlangsung tanpa banyak kata. Dalam sebuah perlombaan, seorang anak belajar bahwa setiap permainan mempunyai aturan yang harus dihormati. Ia belajar bahwa tidak semua keinginan dapat dipenuhi seketika, bahwa ada waktunya menunggu, ada waktunya bergerak, ada kalanya berhasil dan ada kalanya gagal. Ketika kalah, ia belajar mengelola kekecewaan. Ketika menang, ia belajar bahwa kemenangan tidak memberi alasan untuk merendahkan orang lain. Ketika permainan dilakukan secara berkelompok, ia belajar bahwa tujuan bersama tidak dapat dicapai hanya dengan mengandalkan kemampuan dirinya sendiri. Semua itu adalah pelajaran tentang kehidupan yang sangat konkret. Kita sering berbicara mengenai pendidikan karakter dalam bahasa yang rumit, padahal seorang anak mungkin memahami arti sportivitas justru ketika ia belajar menerima kekalahan dalam sebuah permainan sederhana. Ia memahami arti kerja sama ketika harus membantu teman agar kelompoknya dapat menyelesaikan tantangan. Ia belajar bangkit ketika terjatuh dan kembali mencoba. Barangkali tidak semua pelajaran penting dalam hidup harus disampaikan melalui nasihat; sebagian justru tumbuh melalui pengalaman yang membuat anak merasakan sendiri bagaimana hidup bersama orang lain.Keluarga mempunyai posisi penting dalam menjaga pengalaman tersebut. HUT Kemerdekaan dapat menjadi kesempatan bagi orang tua untuk tidak sekadar menjadi penonton yang sibuk mengabadikan anak melalui kamera, tetapi benar-benar hadir di dalam pengalaman mereka. Anak mungkin tidak membutuhkan orang tua yang selalu memastikan dirinya menang. Yang lebih dibutuhkan adalah orang tua yang mengajarkan bahwa kalah bukan kehinaan dan menang bukan alasan untuk menyombongkan diri. Ketika ayah atau ibu ikut tertawa melihat anaknya terjatuh dari karung, kemudian membantu dan menyemangatinya untuk mencoba kembali, sesungguhnya sedang berlangsung sebuah pendidikan yang jauh lebih dalam daripada sekadar lomba. Begitu pula ketika orang tua mengenalkan permainan masa kecil mereka kepada anak-anak, terjadi pertemuan antara dua generasi. Anak bukan hanya mengenal sebuah permainan, tetapi juga mengenal sedikit dari dunia tempat orang tuanya tumbuh. Ada warisan yang tidak pernah tercatat dalam buku keluarga: cara orang tua tertawa, cara mereka bermain, cara mereka berteman, dan cara mereka menemukan kebahagiaan dari sesuatu yang sederhana. Warisan seperti itu layak diselamatkan karena anak-anak tidak hanya membutuhkan teknologi untuk menghadapi masa depan; mereka juga membutuhkan akar untuk memahami siapa dirinya.Permainan rakyat pada akhirnya bukan hanya persoalan aktivitas fisik, tetapi bagian dari ingatan sosial masyarakat. Panjat pinang, bakiak, egrang, congklak, kelereng, tarik tambang, dan berbagai permainan tradisional membawa cerita tentang cara masyarakat dahulu menciptakan kegembiraan bersama. Kita tidak perlu menganggap semua yang berasal dari masa lalu pasti lebih baik, sebagaimana kita tidak perlu menganggap semua yang datang dari teknologi sebagai ancaman. Yang lebih penting adalah kemampuan untuk memilih dan menjaga keseimbangan. Sebab apabila permainan rakyat perlahan hilang, yang mungkin ikut menghilang bukan hanya bentuk permainannya, tetapi juga ruang sosial yang selama ini menyertainya. Lapangan menjadi lebih sepi, anak-anak semakin jarang bertemu, dan kesempatan untuk membangun hubungan antartetangga semakin sedikit. Kebudayaan tidak selalu mati karena dilarang; terkadang ia hilang perlahan karena tidak lagi dipraktikkan. Karena itu, mempertahankan permainan rakyat bukan berarti menolak kemajuan. Justru di tengah kemajuan itulah kita perlu bertanya apa saja yang tidak boleh kita kehilangan.Lalu, sebenarnya apa yang sedang kita pertahankan setiap kali lomba 17 Agustus kembali digelar? Mungkin bukan sekadar balap karung, makan kerupuk, atau panjat pinang. Yang sedang kita pertahankan adalah kebiasaan berkumpul ketika kehidupan semakin individual, kebiasaan tertawa bersama ketika tekanan hidup semakin berat, kebiasaan bekerja sama ketika persaingan semakin kuat, dan kebiasaan melihat tetangga bukan hanya sebagai orang yang tinggal di sebelah rumah, tetapi sebagai bagian dari kehidupan kita. Di situlah permainan rakyat memiliki nilai yang lebih besar daripada hadiahnya. Hadiah mungkin habis dalam hitungan hari, tetapi pengalaman kebersamaan dapat tinggal jauh lebih lama dalam ingatan. Seorang anak mungkin kelak lupa siapa yang memenangkan lomba pada suatu sore di bulan Agustus, tetapi ia bisa mengingat bahwa ketika kecil pernah ada sebuah lapangan tempat ia berlari bersama teman-temannya, disaksikan orang tua dan warga yang tertawa bersama. Yang diwariskan oleh permainan bukan hanya cara bermain, melainkan cara hidup bersama.Karena itu, kita masih bermain di hari kemerdekaan bukan karena kita kekurangan hiburan modern atau tidak mampu meninggalkan tradisi lama. Kita bermain karena manusia, secanggih apa pun zamannya, tetap membutuhkan ruang untuk bertemu dan merasakan kebersamaan. Mungkin bentuk permainan akan berubah. Mungkin suatu saat jenis lomba yang kita kenal hari ini tidak lagi sama. Teknologi juga akan terus berkembang dan menjadi bagian dari kehidupan generasi berikutnya. Tetapi kebutuhan untuk merasa diterima, dihargai, ditemani, dan menjadi bagian dari komunitas akan selalu ada. Kemerdekaan yang kita warisi tidak seharusnya hanya menghasilkan masyarakat yang bebas, tetapi juga masyarakat yang mampu hidup bersama.Maka, ketika bulan Agustus tiba dan anak-anak kembali memenuhi lapangan, jangan buru-buru melihatnya sebagai keramaian biasa. Perhatikan lebih dalam. Di balik tawa mereka ada proses belajar tentang keberanian. Di balik sorak-sorai warga ada rasa kebersamaan. Di balik tangan-tangan yang saling menopang dalam panjat pinang ada pesan bahwa tujuan tertentu memang tidak dapat dicapai seorang diri. Dan di balik permainan sederhana itu mungkin terdapat sebuah pelajaran besar tentang Indonesia: bahwa bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang mampu bergerak cepat mengikuti zaman, tetapi juga bangsa yang tidak kehilangan kemampuan untuk duduk, bermain, tertawa, dan tumbuh bersama. Mungkin itulah alasan kita perlu terus bermain. Sebab kemerdekaan tidak selalu hadir dalam pidato, upacara, atau pekik perjuangan. Kadang-kadang ia hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: seorang anak yang berani mencoba lagi setelah gagal, sekelompok warga yang saling membantu, orang tua yang tertawa bersama anaknya, dan sebuah kampung yang selama beberapa jam melupakan kesibukan masing-masing untuk menjadi satu komunitas. Jika suatu hari anak-anak kita tidak lagi mengenal permainan rakyat, mungkin yang perlu kita tanyakan bukan hanya permainan apa yang telah hilang, tetapi kebersamaan seperti apa yang ikut pergi bersamanya. Dan selama Agustus masih membuat lapangan kampung kembali ramai, selama anak-anak masih berlari mengejar garis akhir, dan selama warga masih bersedia berkumpul tanpa harus menunggu sebuah kepentingan, barangkali kita masih memiliki alasan untuk percaya bahwa ada sesuatu yang sangat berharga dalam bangsa ini yang belum hilang: kemampuan untuk menemukan kebahagiaan dalam kebersamaan.wallahu a’lam
