
“Bagaimana saya bisa menggapai cita-cita jika orang tua tidak menjadi teladan, sering terjadi perkelahian di rumah, dan keluarga saya broken home?” Pertanyaan itu muncul dari seorang peserta Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS). Sederhana, tetapi menyimpan kegelisahan yang dalam. Ia bukan hanya bertanya tentang cita-cita, tetapi juga tentang masa depan: apakah saya masih bisa berhasil jika rumah tempat saya tumbuh tidak baik-baik saja? Pertanyaan ini penting karena keluarga adalah tempat pertama anak belajar tentang kasih sayang, kepercayaan, tanggung jawab, komunikasi, dan cara menghadapi masalah. Namun, tidak semua anak tumbuh dalam keluarga yang ideal. Ada yang menghadapi pertengkaran orang tua, perceraian, kurang perhatian, atau kehilangan salah satu figur penting dalam hidupnya. Ada pula yang tinggal bersama kedua orang tua, tetapi tetap merasa sendiri. Karena itu, istilah broken home sebaiknya tidak dijadikan label bagi seorang anak. Keluarga boleh mengalami masalah, tetapi anak bukanlah masalah itu. Perceraian orang tua bukan identitas seorang anak, dan konflik keluarga bukan penentu tunggal masa depannya. Seorang anak memang tidak bisa memilih keluarga tempat ia dilahirkan. Ia tidak bisa memilih orang tuanya atau menentukan bagaimana hubungan mereka berjalan. Namun, ia masih dapat memilih bagaimana menjalani hidup dan ke mana masa depannya diarahkan. Di sinilah resiliensi, atau kemampuan untuk bangkit menghadapi kesulitan, menjadi penting. Remaja yang tumbuh dalam keluarga tidak ideal bukan berarti pasti gagal.
Mereka membutuhkan dukungan agar mampu mengenali kekuatan diri, membangun kepercayaan diri, memilih lingkungan yang baik, dan tetap memiliki harapan. Kadang, kekuatan itu datang dari orang lain: guru yang peduli, sahabat yang baik, pembina, penyuluh agama, atau orang dewasa yang mau mendengarkan.
Islam juga mengajarkan bahwa kesulitan bukan alasan untuk kehilangan harapan. Al-Qur’an mengingatkan, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS. Al-Baqarah: 286). Allah juga berfirman, “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah: 5–6). Pesan ini mengajarkan bahwa di tengah kesulitan selalu ada ruang untuk berikhtiar. Kemudahan tidak selalu berarti masalah langsung hilang. Terkadang kemudahan hadir melalui orang yang peduli, kesempatan belajar, lingkungan yang baik, atau kekuatan untuk bangkit. Lalu, bagaimana jika orang tua sendiri tidak menjadi teladan? Seorang remaja perlu memahami bahwa menghormati orang tua tidak berarti harus meniru semua perilakunya. Islam mengajarkan birrul walidain, yaitu menghormati dan berbuat baik kepada orang tua. Namun, seorang anak tetap dapat belajar membedakan mana yang baik untuk diteladani dan mana yang harus dihindari. Jika melihat pertengkaran, ia dapat belajar pentingnya komunikasi. Jika merasa kurang diperhatikan, ia dapat belajar menjadi orang yang lebih peduli. Jika melihat ketidakjujuran, ia dapat memilih menjadi pribadi yang amanah. Dengan demikian, pengalaman buruk tidak harus menjadi beban selamanya.
Masa lalu dapat menjadi pelajaran untuk membangun masa depan yang lebih baik. Tetapi kita juga perlu berhati-hati dalam memberi nasihat kepada remaja. Tidak semua persoalan cukup dijawab dengan “sabar”. Islam memang mengajarkan kesabaran, tetapi sabar bukan berarti membiarkan kekerasan atau keadaan yang membahayakan. Jika seorang remaja mengalami kekerasan, ancaman, atau perlakuan yang merusak keselamatannya, ia perlu mencari bantuan kepada orang dewasa yang dipercaya. Guru, konselor, keluarga, penyuluh agama, atau tenaga profesional dapat menjadi tempat meminta pertolongan. Meminta bantuan bukan tanda kelemahan. Itu adalah bentuk keberanian untuk menjaga diri. Di sisi lain, remaja perlu diarahkan untuk memperbaiki hal-hal yang masih dapat dikendalikan. Menjaga ibadah, mendekat kepada Al-Qur’an, memilih teman yang baik atau suhbah salihah, belajar dengan sungguh-sungguh, mengembangkan keterampilan, mengelola emosi, dan menetapkan tujuan hidup merupakan bentuk ikhtiar.
Allah SWT mengingatkan, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’d: 11). Ayat ini bukan berarti menyalahkan seseorang atas keadaan yang tidak dapat ia kendalikan. Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa setiap orang masih memiliki ruang untuk memperbaiki diri. Seorang remaja mungkin tidak dapat menghentikan pertengkaran orang tuanya, tetapi ia dapat memilih untuk tidak membawa pertengkaran itu menjadi karakter dirinya. Jika rumah mengajarkan kemarahan, ia dapat belajar menjadi pribadi yang tenang.
Jika lingkungan mengajarkan kebencian, ia dapat belajar memaafkan. Jika ia melihat ketidakjujuran, ia dapat memilih menjadi pribadi yang amanah. Di sinilah BRUS memiliki peran penting. Bimbingan Remaja Usia Sekolah seharusnya tidak hanya berisi nasihat tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Remaja membutuhkan ruang untuk berbicara tentang persoalan yang mereka hadapi: keluarga, pergaulan, emosi, cita-cita, dan masa depan. Mereka membutuhkan ruang untuk didengar, bukan hanya dinasihati; dibimbing, bukan hanya dinilai; dikuatkan, bukan hanya diperingatkan.
Karena itu, BRUS perlu menjadi ruang yang membantu remaja mengenali dirinya, menemukan teladan, membangun lingkungan yang sehat, dan menyusun langkah nyata menuju masa depan. Memang, ada yang berpendapat bahwa masalah keluarga adalah urusan internal dan remaja harus belajar mandiri. Pendapat ini ada benarnya.
Remaja memang harus belajar bertanggung jawab atas hidupnya. Tetapi mandiri bukan berarti sendirian. Remaja tetap membutuhkan keluarga, sekolah, guru, penyuluh agama, teman, dan masyarakat yang mampu menjadi lingkungan pendukung. Karena itu, membangun ketahanan remaja merupakan tanggung jawab bersama.
Orang tua perlu memperbaiki komunikasi. Sekolah perlu menyediakan ruang pendampingan. Guru dan penyuluh agama perlu hadir sebagai pendengar sekaligus pembimbing. Masyarakat juga perlu menciptakan lingkungan yang aman bagi pertumbuhan remaja. Pada akhirnya, kita mungkin tidak dapat memastikan setiap anak tumbuh dalam keluarga yang ideal.
Kita juga tidak dapat menghapus semua luka masa lalu. Tetapi kita dapat membantu agar luka itu tidak menjadi masa depan. Anak yang tumbuh dalam keluarga penuh konflik tidak harus menjadi pribadi yang penuh konflik. Anak yang pernah kurang mendapat perhatian tidak harus kehilangan kemampuan untuk mencintai. Anak yang pernah melihat rumahnya retak justru dapat belajar membangun rumah yang lebih baik kelak. Ia tidak harus mewarisi luka; ia dapat mewarisi pelajaran. Kita memang tidak selalu dapat memilih rumah tempat kita dilahirkan, tetapi kita dapat memilih nilai yang akan kita bawa ketika membangun rumah sendiri.
Maka kepada setiap remaja yang sedang menghadapi keluarga yang tidak ideal: jangan serahkan masa depanmu kepada masa lalumu. Kamu bukan pertengkaran yang pernah kamu lihat. Kamu bukan perceraian orang tuamu. Kamu bukan kegagalan keluargamu. Kamu adalah manusia yang masih memiliki kesempatan untuk belajar, berdoa, berusaha, dan memilih jalan hidup. Selama masih ada iman, ilmu, harapan, dan keberanian untuk melangkah, masa depan belum selesai ditulis. Rumah boleh retak, tetapi mimpi jangan patah.wallahu a’lam
