
RIAU, (Mataandalas) – Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) mulai membuka peluang baru dalam pengelolaan Corporate Social Responsibility (CSR), khususnya dalam membantu perusahaan mengolah data kegiatan menjadi informasi yang lebih terukur.
Berangkat dari pengalaman di bidang External Relations, komunikasi dan CSR, Imam Aulia Raihan, SM, CDS, CPRM, mengembangkan role model aplikasi berbasis AI untuk membantu menganalisis dan memetakan dampak program CSR daerah.
Konsep aplikasi tersebut dirancang dengan pendekatan Input → Activity → Output → Outcome → Impact, sehingga data kegiatan tidak hanya menjadi laporan administratif, tetapi dapat diolah menjadi bahan analisis untuk melihat relevansi, hasil, keberlanjutan serta potensi dampak program.
Salah satu fitur yang dikembangkan adalah Impact Score, yakni model penilaian berbasis sejumlah parameter untuk memberikan gambaran mengenai performa suatu program sekaligus menghasilkan rekomendasi sebagai bahan pendukung evaluasi.
“Saya melihat bahwa setiap kegiatan CSR sebenarnya menghasilkan banyak data. Tantangannya adalah bagaimana data tersebut tidak berhenti sebagai laporan dan dokumentasi, tetapi dapat diolah menjadi informasi yang membantu evaluasi dan pengambilan keputusan,” ujar Imam.
Imam sendiri memiliki latar belakang pengalaman di bidang media, komunikasi publik, stakeholder engagement dan CSR. Profil profesionalnya mencatat pengalaman di sejumlah kegiatan komunikasi serta pengembangan program sosial di berbagai daerah. Ia juga tercatat pernah menjadi pembicara termuda dari Indonesia dalam Annual Global CSR & ESG Summit and Awards Asia, sebuah pengalaman yang memperkuat ketertarikannya terhadap isu CSR, keberlanjutan dan pemberdayaan masyarakat.
Saat ini, Imam tengah mengabdikan diri di PT AMM melalui lingkungan HCGA, bidang External Relations. Pengalaman tersebut menjadi ruang baginya untuk terus belajar dari lapangan sekaligus mengembangkan gagasan yang menghubungkan komunikasi, stakeholder engagement, data dan teknologi.
“Saya bersyukur mendapatkan kesempatan untuk belajar dan mengabdikan diri di PT AMM. Apa yang saya kembangkan ini masih merupakan proses belajar. Harapannya, teknologi dapat menjadi alat bantu untuk membuat pengelolaan program sosial semakin terukur dan memberikan nilai yang lebih besar,” ungkapnya.
Aplikasi tersebut masih berada pada tahap role model/prototype dan terbuka untuk pengembangan lebih lanjut, termasuk integrasi database, dashboard monitoring, dokumentasi, evaluasi program dan analisis dampak.
Bagi Imam, inovasi tersebut bukan sekadar tentang membuat aplikasi, tetapi bagaimana generasi muda daerah dapat memanfaatkan teknologi untuk menjawab kebutuhan nyata di dunia kerja.
“Bukan hanya menghitung berapa banyak program yang dilakukan, tetapi memahami seberapa besar perubahan yang ditinggalkan.”
