DUMAI, (Mataandalas) – Rencana pembangunan dan revitalisasi Pasar Bunda Sri Mersing serta Pasar Pulau Payung di Kota Dumai mendapat sorotan dari para pedagang. Perkumpulan Pedagang Pasar Bunda Sri Mersing dan Pulau Payung (PPPBSM) menilai pemerintah belum melibatkan pedagang secara maksimal dalam proses perencanaan.
Ketua PPPBSM, Afrizal, mengatakan pedagang seharusnya dilibatkan sejak tahap awal, terutama dalam pembahasan desain dan kebutuhan pasar.
“Ini tempat kami mencari makan. Seharusnya sebelum menyusun rencana, pemerintah duduk bersama kami dan mendengarkan kebutuhan kami,” ujar Afrizal, Jumat (28/8/2026).
Menurutnya, keterlibatan pedagang penting agar pembangunan yang menggunakan anggaran pemerintah benar-benar sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Afrizal juga mengingatkan pemerintah agar tidak mengulangi persoalan yang menurutnya terjadi pada pembangunan sejumlah pasar sebelumnya, seperti Pasar Kelakap 7 dan Pasar Lepin, yang dinilai kurang optimal dalam pemanfaatannya.
“Jangan sampai anggaran besar dikeluarkan, tetapi hasilnya tidak sesuai dengan kebutuhan pedagang dan masyarakat. Itu yang kami khawatirkan,” katanya.
PPPBSM menegaskan pihaknya tidak menolak pembangunan maupun revitalisasi pasar. Namun, mereka meminta adanya transparansi serta keterlibatan pedagang dalam setiap tahapan perencanaan.
Pedagang juga meminta Pemerintah Kota Dumai membuka Detail Engineering Design (DED), termasuk menjelaskan jumlah kios, mekanisme relokasi selama pembangunan, serta kepastian pedagang lama dapat kembali menempati pasar setelah revitalisasi selesai.
Afrizal berharap Pemko Dumai segera membuka dialog resmi bersama para pedagang sebelum proses pembangunan dilanjutkan.
“Pembangunan pasar yang baik bukan hanya soal megahnya bangunan, tetapi juga memastikan pedagang yang selama ini menghidupkan pasar tetap mendapatkan tempat,” tegasnya.
