Beranda / Opini / Asap di Langit, Kabut dalam Kesadaran

Asap di Langit, Kabut dalam Kesadaran

Ada kecenderungan manusia untuk menganggap ringan sebuah peringatan selama akibatnya belum dirasakan. Nasihat terdengar biasa ketika kehidupan berjalan nyaman, tetapi menjadi sangat berarti ketika keadaan berubah menjadi sulit. Al-Qur’an merekam kecenderungan manusia tersebut melalui kisah ad-Dukhan, yang secara harfiah berarti asap.

Dalam Surah ad-Dukhan ayat 10–11, Allah SWT menggambarkan suatu keadaan ketika langit menghadirkan asap yang nyata dan asap itu meliputi manusia, kemudian ditegaskan, “Inilah azab yang pedih.” Gambaran tersebut dilanjutkan dengan keadaan manusia yang memohon kepada Allah agar azab itu disingkirkan seraya menyatakan kesediaan untuk beriman. Namun, rangkaian ayat berikutnya justru mengingatkan bahwa sebelum kesulitan itu datang, telah hadir seorang rasul yang menyampaikan kebenaran secara terang, tetapi mereka memilih berpaling dan menolaknya.

Di sinilah kekuatan pesan Al-Qur’an itu terasa: manusia kerap kali baru menyadari arti sebuah peringatan setelah kenyamanan terganggu dan akibat mulai berada di depan mata. Dalam khazanah tafsir, pemaknaan terhadap ad-Dukhan tidak tunggal. Sebagian ulama mengaitkannya dengan masa paceklik yang pernah dialami kaum Quraisy pada masa Rasulullah SAW, ketika kelaparan yang hebat membuat pandangan mereka seakan dipenuhi asap, sedangkan pendapat lain memahami ad-Dukhan sebagai salah satu tanda besar yang berkaitan dengan peristiwa menjelang Kiamat. Perbedaan pandangan tersebut penting ditempatkan secara proporsional. Ia menunjukkan bahwa pembacaan terhadap ayat Al-Qur’an membutuhkan ketelitian ilmiah dan tidak semestinya setiap fenomena kontemporer yang menyerupai gambaran ayat langsung diberi label sebagai ad-Dukhan.

Kehati-hatian semacam ini justru merupakan bagian dari sikap ilmiah dalam memahami wahyu. Akan tetapi, perbedaan tafsir tidak menghilangkan pesan moral yang dapat direnungkan bersama. Apa pun konteks penafsirannya, rangkaian ayat tersebut mengingatkan manusia tentang konsekuensi dari sikap mengabaikan kebenaran dan meremehkan peringatan. Dalam kehidupan kontemporer, pesan itu menemukan relevansinya dalam berbagai persoalan yang kita hadapi.

Dunia hari ini tidak hanya mengenal asap sebagai hasil pembakaran, tetapi juga menghadapi persoalan lingkungan berupa polusi udara, kebakaran hutan, pencemaran, dan degradasi ekosistem. Pada saat yang sama, kehidupan sosial menghadapi “asap” dalam bentuk lain: kabar palsu, fitnah, provokasi, ujaran kebencian, dan informasi yang tidak terverifikasi. Asap secara fisik mengurangi jarak pandang; demikian pula informasi yang menyesatkan dapat mengaburkan kemampuan masyarakat dalam melihat persoalan secara jernih. Tentu saja, fenomena tersebut tidak dapat begitu saja disamakan dengan ad-Dukhan yang disebut dalam Al-Qur’an.

Namun, semuanya dapat menjadi ruang refleksi tentang satu prinsip yang sangat penting: tindakan manusia tidak pernah berdiri tanpa konsekuensi. Al-Qur’an menyatakan bahwa kerusakan di darat dan di laut telah tampak akibat perbuatan tangan manusia (QS. ar-Rum: 41). Pesan tersebut semakin relevan ketika berbagai persoalan ekologis muncul sebagai akibat dari pola pemanfaatan alam yang tidak terkendali.

Kebakaran hutan, misalnya, tidak cukup dipahami sebagai persoalan munculnya kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat. Di baliknya terdapat persoalan yang lebih mendasar, yakni bagaimana manusia menjalankan tanggung jawabnya sebagai pengelola bumi. Begitu pula pencemaran dan kerusakan lingkungan tidak lahir dalam satu malam. Ia sering merupakan hasil akumulasi keputusan yang keliru, kelalaian yang berulang, dan orientasi pembangunan yang mengabaikan keberlanjutan. Dalam konteks sosial, proses yang serupa juga berlangsung.

Kebencian yang dibiarkan akan tumbuh menjadi permusuhan, kebohongan yang terus diulang dapat berubah menjadi keyakinan publik, dan provokasi yang tidak dikendalikan dapat mengikis kepercayaan antarsesama. Masyarakat akhirnya hidup dalam ruang yang penuh “asap”, bukan karena pandangan mata benar-benar tertutup, melainkan karena kemampuan membedakan fakta dan kebohongan semakin melemah.

Karena itu, pesan ad-Dukhan dapat dibaca sebagai ajakan untuk membangun budaya kewaspadaan dan koreksi diri. Peringatan tidak selalu hadir dalam bentuk peristiwa spektakuler. Dalam kehidupan sehari-hari, ia sering muncul melalui gejala yang tampak sederhana: komunikasi keluarga yang mulai renggang, anak yang semakin jauh dari perhatian orang tua, lingkungan yang perlahan kehilangan daya dukung, meningkatnya ketegangan di tengah masyarakat, atau kebiasaan menyebarkan informasi tanpa memeriksa kebenarannya.

Gejala-gejala tersebut mungkin terlihat kecil ketika pertama kali muncul, tetapi persoalan besar sering bermula dari sesuatu yang dianggap sepele. Di sinilah manusia dituntut memiliki kemampuan membaca tanda sebelum keadaan berkembang menjadi krisis. Kesalahan terbesar bukan semata-mata melakukan kekeliruan, melainkan menolak mengakui kekeliruan setelah tanda-tandanya terlihat. Kita sering menunggu keadaan menjadi parah sebelum melakukan perubahan. Keluarga baru membangun komunikasi setelah hubungan terlanjur retak.

Masyarakat baru menyerukan persatuan setelah konflik membesar. Kesadaran ekologis baru menguat setelah bencana terjadi. Bahkan dalam kehidupan pribadi, seseorang kadang baru melakukan introspeksi ketika kehilangan sesuatu yang selama ini dianggap akan selalu ada. Pola semacam ini menunjukkan bahwa persoalan manusia bukan kekurangan tanda, melainkan kekurangan kepekaan untuk membaca tanda tersebut.

Dalam perspektif Al-Qur’an, peringatan sesungguhnya merupakan kesempatan. Ia memberi ruang bagi manusia untuk berhenti, berpikir, mengoreksi arah, dan memperbaiki kesalahan. Karena itu, keimanan tidak semestinya hanya muncul ketika manusia berada dalam keadaan terdesak.

Keimanan seharusnya melahirkan kesadaran yang mendorong seseorang melakukan perbaikan ketika kesempatan masih terbuka. Dengan cara pandang demikian, kisah ad-Dukhan tidak perlu diperlakukan semata-mata sebagai cerita tentang ketakutan terhadap suatu peristiwa besar, tetapi sebagai cermin tentang bagaimana manusia merespons peringatan.

Pertanyaan yang lebih relevan bagi kehidupan kita bukan sekadar kapan ad-Dukhanakan muncul atau fenomena apa yang dapat disebut sebagai asap, melainkan apakah kita masih mampu mengenali “asap” yang telah memenuhi kehidupan kita hari ini. Ada asap yang keluar dari cerobong industri, asap kebakaran yang menutup langit, tetapi ada pula “asap” yang jauh lebih sulit dilihat: prasangka yang memenuhi pikiran, kesombongan yang menutup hati, kebencian yang merusak persaudaraan, serta ketidakpedulian yang membuat manusia mengabaikan amanah terhadap alam dan sesama. Jika asap secara fisik menghalangi pandangan, maka kesombongan dan kebencian dapat menghalangi manusia melihat kebenaran.

Pada titik inilah pesan Al-Qur’an menjadi sangat aktual. Manusia tidak cukup hanya memiliki kemampuan menghadapi akibat; yang lebih penting adalah memiliki kebijaksanaan untuk mencegah akibat sebelum terjadi. Pencegahan membutuhkan kesadaran, sementara kesadaran membutuhkan kemauan untuk menerima peringatan. Oleh sebab itu, membaca kisah ad-Dukhan pada zaman sekarang semestinya tidak berhenti pada upaya mencari-cari fenomena yang dianggap sebagai tanda akhir zaman. Lebih penting dari itu adalah menjadikannya sebagai momentum untuk menilai kembali cara manusia memperlakukan alam, membangun keluarga, menjaga persaudaraan, menggunakan teknologi, dan menyikapi informasi. Sebab, ketika peringatan telah berubah menjadi bencana, ruang untuk melakukan koreksi biasanya menjadi jauh lebih sempit. Pada akhirnya, ad-Dukhan mengajarkan sebuah kesadaran sederhana tetapi mendalam: setiap peringatan adalah kesempatan sebelum datangnya akibat.

Orang yang bijaksana bukanlah mereka yang baru bertindak ketika asap telah menutup pandangan, melainkan mereka yang mampu membaca tanda ketika persoalan masih dapat diperbaiki. Karena itu, sebelum kita bertanya tentang asap yang akan datang, barangkali lebih penting bertanya tentang asap yang sedang kita ciptakan sendiri. Sebab, boleh jadi persoalan terbesar bukanlah ketika asap memenuhi langit, melainkan ketika manusia kehilangan kejernihan untuk menyadari bahwa dirinya sedang berada di tengah peringatan.wallahu a’lam

Opini Oleh : Iswadi M.Yazid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *